Home » , , » Sejarah Sepatu Sepak Bola

Sejarah Sepatu Sepak Bola

Written By Papareysa on Rabu, 27 Februari 2013 | 06.34

Pada awalnya, pemain boleh mengenakan sepatu jenis apa pun di lapangan. Sepatu dengan alas polos yang sering dipakai untuk kerja pun diperbolehkan. Sepatu wanita dengan hak agak tinggi bahkan pernah digunakan para pemain sepakbola di lapangan hijau.Kemudian, keluarlah peraturan FIFA pada 1863. Salah satunya berbunyi, "Yang tidak memakai paku menonjol, lempengan besi, atau getah karet pada sol sepatunya tidak diperbolehkan bermain".

Aturan itu memunculkan gairah tukang sepatu di Inggris dan Eropa untuk membuat sepatu khusus sepak bola. Sebelum industri massal dimulai, tukang sepatu kebanyakan membuatnya dalam skala produksi rumah tangga. Pada 1895, Joe dan Jeff Foster mendirikan J.W. Foster and Sons di Bolton, Inggris, sebelum mengubahnya menjadi Reebok pada 1958. Sejak Januari 1905, Herman Jansen membuat toko sekaligus bengkel sepatu di rumahnya di Kota Hengelo, Provinsi Gelderland, Belanda timur. Pada tahun yang sama, muncul pula pembuat sepatu bola di Inggris.

Industri sepatu kian menggeliat ketika kakak beradik Adolf dan Rudolf Dassler membuka pabrik dengan nama Gebruder Dassler Schuhfabrik pada 1924.Usaha dua bersaudara itu akhirnya pecah pada 1947. Rudolf mendirikan firma bernama Ruda yang kelak akan berganti nama menjadi Puma. Sementara Adolf mendaftarkan perusahaan bernama Adidas pada tahun 1949, disinilah awal mula sepatu bola klasik berwarna hitam. Sepanjang Piala Dunia FIFA 1966 hampir 75% pemain sepakbola mengenakan sepatu bola Adidas. Hal itu menjadi prestasi tersendiri bagi perusahaan tersebut.

Sejak saat itu sepatu bola telah ditingkatkan kualitasnya untuk mendukung performa permainan atlit sepakbola secara professional. Inovasi terus tumbuh dan berkembang dengan perusahaan-perusahaan yang maju dan menciptakan sepatu bola yang lebih mantap, ringan dan fleksibel. Beberapa perusahaan yang kemudian mengembangkan inovasi sepatu bola adalah Reebok, Puma, Nike, Diadora, Umbro, Lotto dan Kelme.

Mulai tahun 1910-an, sepatu dengan nama Cup Final Specials mendunia berkat “gigi-gigi” kayu di bagian bawah agar pemain mudah mencengkeramkan kakinya ke tanah. Ujung sepatu dibuat dengan pola anyaman agar pemain mudah menggerakkan jari kakinya selama mengontrol bola. Bentuk gigi itu seperti tabung dengan tiga paku kecil berujung tajam. Pemain harus memakukkan “kuku” itu ke sol dengan palu kecil.

Ukuran gerigi itu pun bervariasi. Pemain akan memilih gigi lebih panjang untuk bermain di lapangan becek agar tidak mudah terpeleset. Salah satu tugas wasit dan asistennya adalah mengecek sol itu sebelum pemain masuk ke lapangan. Jika gigi sepatu terlalu tajam dan menonjol, pemain tak diperbolehkan masuk.

Berbeda dengan sepatu sebakbola masa silam dibuat dari bahan kulit tipis tapi berat. Modelnya berupa laras panjang atau boot agar bisa melindungi engkel pemain dari sepakan lawan. Sepatu itu umumnya keras dan kaku sehingga sering membuat kaki pemakainya cedera. Agar lebih lentur dan enak dipakai, sepatu direndam dulu selama beberapa jam sebelum dikenakan, lalu dijemur sebentar agar kandungan air tidak memberatkan sepatu.

Di era 1920-an, sepatu bola mulai diproduksi secara massal. Salah satu yang terkenal di era itu adalah Manfield Hotspur. Sepatu kulit ini tidak hanya diproduksi untuk pemain dewasa, tapi juga untuk semua umur termasuk anak-anak.

Nah, itulah sedikit tentang sejarah sepatu sepak bola, untuk membaca informasi menarik lainnya silahkan kunjungi cara memilih sepatu futsal dan juga sepatu kulit tertua di dunia.


0 komentar:

Poskan Komentar

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS